Ketersediaan pakan alami pada fase larva hingga benih menentukan tingkat kelulusan hidup (survival rate) ikan mas. Pada 10 hari pertama setelah menetas, larva belum mampu mencerna pakan buatan karena sistem pencernaannya belum sempurna. Karena itu, pemberian pakan alami bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu utama keberhasilan pemijahan dan pendederan.
Jenis Pakan Alami untuk Larva Umur 0–10 Hari
Pada fase ini, bukaan mulut larva masih sangat kecil (sekitar 0,5–1 mm), sehingga pakan harus berukuran mikroskopis dan bergerak di kolom air. Beberapa pilihan yang terbukti efektif:
- Kuning telur rebus: diberikan mulai hari ke-2 hingga ke-5. Dosis 1 kuning telur per 100.000 larva per hari, dilarutkan dalam air lalu disemprotkan merata ke permukaan kolam.
- Artemia nauplii: ukuran 400–500 mikron, diberikan 3–5 kali sehari dengan kepadatan 5–10 nauplii per ml air kolam.
- Rotifera (Brachionus): cocok untuk larva umur 3–7 hari. Kultur rotifera dapat dilakukan dengan kotoran ayam fermentasi dan dedak halus.
- Infusoria: hasil fermentasi daun pisang atau kotoran ternak, muncul alami di kolam yang dipupuk dengan pupuk kandang 500 g/m².
Pakan Alami untuk Benih Umur 10–30 Hari
Setelah hari ke-10, bukaan mulut benih membesar hingga 2–3 mm. Pakan alami yang diberikan harus lebih besar dan padat nutrisi. Daphnia, Moina, dan Tubifex menjadi pilihan utama.
Daphnia dan Moina
Kedua krustasea air tawar ini mengandung protein 50–60% dan mudah dicerna. Kultur dilakukan di kolam terpisah dengan kedalaman 30–40 cm, diberi pupuk kandang 1 kg/m² dan dedak 200 g/m² setiap 3 hari. Kepadatan panen bisa mencapai 50–100 ind/liter. Berikan 2 kali sehari sebanyak 10–20% biomassa benih.
Tubifex (cacing sutra)
Kandungan proteinnya mencapai 57–65%, sangat baik untuk mempercepat pertumbuhan. Kultur Tubifex dapat dilakukan di saluran air dengan media lumpur halus dan limbah organik. Berikan 5–10% dari total bobot benih per hari, dicuci bersih sebelum diberikan untuk menghindari patogen.
Teknik Praktis Pemberian Pakan Alami
- Frekuensi: larva 4–6 kali/hari, benih 2–3 kali/hari.
- Waktu: pagi (06.00–08.00) dan sore (16.00–17.00) saat oksigen terlarut optimal.
- Kepadatan tebar: larva 100–200 ekor/liter, benih 20–50 ekor/liter agar pakan alami tidak berebut.
- Kualitas air: suhu 26–30°C, pH 6,5–8,0, dan amonia di bawah 0,1 mg/l. Ganti air 20–30% setiap 3 hari.
- Kombinasi: mulai hari ke-15, campur pakan alami dengan pakan buatan halus (tepung) dengan rasio 1:1 untuk adaptasi.
Jika pakan alami sulit diperoleh, alternatifnya adalah menumbuhkan pakan alami di kolam pendederan sendiri dengan pemupukan rutin. Cek kepadatan pakan setiap 3 hari dengan cara mencelupkan gelas plastik ke kolam dan menghitung jumlah organisme di bawah cahaya.
Pemberian pakan alami yang tepat jenis, jumlah, dan waktunya akan menekan kematian larva hingga di bawah 20% dan mempercepat benih mencapai ukuran 5–8 cm dalam 30 hari. Tanpa pakan alami, pendederan ikan mas hampir pasti gagal. Karena itu, siapkan kultur pakan alami sebelum pemijahan dimulai, bukan setelah larva menetas.